Renungan

Rabu, 28 November 2012

Keutamaan ilmu


KEUTAMAAN ILMU
Syaikh Shalih al Utsaimin
Oleh Abu Haidar Al Sundawy



  1. Ilmu adalah warisan para Nabi.
  2. Ilmu adalah kekal, harta binasa
  3. Ilmu tidak sulit dalam penyimpanannya.
  4. Ilmu akan menjadi saksi ke Esa-an ALLAH.
  5. Orang berilmu salah satu orang yang harus ditaati.
  6. Orang berilmu akan selalu dalam kebenaran.
  7. Orang berilmu salah satu yang boleh kita iri kepada mereka.
  8. Orang berilmu diibaratkan seperti tanah yang subur.
  9. Ilmu adalah jalan menuju syurga.
  10. Ilmu adalah kebaikan.
  11. Ilmu adalah cahaya.
  12. Orang berilmu dapat menjadi cahaya bagi orang lain.
  13. Orang berilmu akan diangkat derajatnya oleh AL



  1. ILMU ADALAH WARISAN PARA NABI.

Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tidak mewariskan kekayaan hanyalah yang mereka wariskan yaitu ILMU. Berdasarkan sebuah hadist :…bahwa ulama adalah ahli waris para nabi…
“ Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang pabila kalian berpegang teguh kepadanya kalian akan selamat, yang pertama adalah Kitabullah dan Keluargaku (Ulama)…
Kenapa Ulama adalah keluarga nabi ? Karena merekalah yang mewarisi peniggalan Nabi. Maka siapapun yang mengambil warisan para nabi maka merekalah anggota keluarga Nabi SAW.


  1. ILMU ADALAH KEKAL, TIDAK BINASA.

Ilmu adalah abadi, kekal dan tidak binasa, sedangkan harta binasa. Sebagai contoh adalah Abu Hurairah Ra, seorang fakir dan miskin dikalangan sahabat. Saking miskinnya ia sering jatuh atau pingsan karena menahan lapar. Sekarang Abu Hurairah yang kala itu demikian miskin, tapi sekarang namanya begitu abadi tersebut hingga ribuan tahun setelah kematiannya sampai zaman kita sekarang. Tetapi keterkenalannya Abu Hurairah hingga sekarang bukan karena ia miskin, bukan karena ia mempunyai jabatan yang tinggi tapi karena ilmu yang ia sebarkannya.

Demikian pula sahabat-sahabat lainnya, nama mereka disebut bersamaan dengan ilmu yang disampaikan oleh mereka kepada kita. Juga dengan ulama-ulama sesudahnya seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad dan juga Imam-Imam yang lainnya disebut bukan karena mereka kaya, bukan karena mereka penguasa, tapi disebabkan karena mereka berILMU dan setiap nama mereka disebut pasti dalam konteks ILMU dan keilmuannya.

Ilmu mereka akan terus menyebar sampai ribuan tahun bahkan hingga hari kiamat, bahkan jasad mereka sudah menjadi tanah, harta imam Abu Hanifah yang pedagang perhiasan bahkan entah sudah kemana dan habis tetapi ilmunya terus berkembang entah mungkin sampai kapan.
Maka kata Syaikh Utsaimin : Karena ilmu itu abadi dan harta binasa, maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk terus berpegang teguh kepada ilmu tersebut, bahkan ilmu bukan saja bermanfaat bagi pemiliknya saja di dunia tapi sampai juga ke akhirat.
Berdasarkan sebuah hadis : Apabila seseorang mati maka akan terputus kecuali tiga : sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya….
Ini suatu bukti kalau keabadian ilmu akan terus sampai ke akhirat bukan saja kehancuran jasad orang itu tapi juga sampai hancurnya dunia maka ilmu itu tidak hancur.




  1. ILMU TIDAK SULIT DALAM PENYIMPANANNYA.

Ilmu tidak membuat lelah dalam penyimpanannya, tidak menyulitkan dan tidak membutuhkan sarana dan fasilitas. Karena kalau ALLAH memberikan ilmu kepada kita maka tempatnya di hati, tidak membutuhkan kunci-kunci, peti atau sejenisnya untuk menjaga ilmu, karena ilmu akan terpelihara di dalam HATI. Ilmu terjaga di dalam jiwa dan bersamaan dengan itu ilmupun akan menjaga kita dari bahaya-bahaya yang menjerumuskan kita. Sehingga perbedaan antara ilmu dengan harta bahwa ilmu itu adalah abadi dan harta itu rusak, ilmu bisa menjaga dan memelihara kita, tapi kalau harta kitalah yang harus menjaganya dan memeliharanya.


  1. ILMU AKAN MENJADI SAKSI KE ESAAN ALLAH.

Ilmu itu bisa menghantarkan manusia menjadi para saksi terhadap ke Esaan ALLAH SWT beserta ALLAH dan beserta para Malaikat. Kemuliaan orang – orang yang berilmu disandingkan, disatu kelompokan dengan ALLAH dan Malaikat dalam hal mempersaksikan kebenaran. Yang dimaksud kebenaran disini adalah ke Esaan ALLAH.

Dalam surat Ali Imron 18 menyatakan : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia , Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu  .  Tak ada Tuhan melainkan Dia , Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat ini menegaskan tiga golongan yang mempersaksikan tentang ke Esaan ALLAH,
·         ALLAH SWT sendiri
·         Para Malaikat
·         Dan orang yang berilmu

Syaikh Utsaimin berkata  : apakah dalam ayat ini yang mempersaksikan ke Esaan ALLAH itu juga adalah pemilik harta ? pemilik tahta atau kekuasaan ? jawabnya adalah tidak…
Dengan keterangan inipun cukup bagi para pencari ilmu juga akan menjadi saksi ke Esaan ALLAH bersama ALLAH dan para Malaikat .
Berupa anugrah yang sempurna bagi manusia bisa digolongkan dengan ALLAH dan Malaikat dapat mempersaksikan keEsaan ALLAH .


  1. ORANG BERILMU ADALAH SALAH SATU ORANG YANG HARUS DITAATI

Orang – orang berilmu adalah salah satu  dari dua golongan orang yang harus ditaati selain Umara (para ulil amri) yang wajib ditaati berdasarkan perintah ALLAH SWT dalam al qur’an surat An Nissa : 59 : Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul , dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah  dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama  dan lebih baik akibatnya.
Ulil amri mencakup dua golongan yaitu Umara dan Ulama, yaitu penguasa dan hakim. Para hakim menjelaskan syariat ALLAH dan Penguasa bertanggung jawab melaksanakan syariat ALLAH.
Jadi yang dimaksud Ulil amri adalah pemimpin negara dan para Ulama yang wajib ditaati. Para pemimpin ditaati atas kebijakan untuk kepentingan negaranya, untuk kemaslahatan rakyat yang hidup di negara itu, sedangkan para ulama / hakim wajib ditaati dalam hal penjelasan – penjelasan yang mereka berikan kepada manusia tentang syariat ALLAH.


  1. ORANG BERILMU AKAN SELALU DALAM KEBENARAN.

Orang berilmu akan selalu tegak dalam kebenaran sampai hari kiamat, tidak akan termadharatkan atau terhinakan orang – orang yang menentang mereka.
Berdasarkan hadis yang diterima dari Muawiyah Ra : aku mendengar Rasul SAW bersabda : Siapa orang yang dikehendaki oleh ALLAH maka ALLAH akan menjadikan orang itu paham tentang agamanya, aku hanyalah qosim dan ALLAH lah yang Maha Pemberi dan senantiasa ada suatu umat dari golonganku yang tegak melaksanakan perintah ALLAH mereka tidak akan dimadharatkan oleh orang – orang yang menentang mereka sampai datang urusan ALLAH dalam hadis lain sampai datang hari kiamat.

Maksud sampai datang urusan ALLAH / hari kiamat adalah kiamat kecil atau datang kematiannya. Sebab kiamat besar tidak akan terjadi selama masih ada orang yang menyebut nama ALLAH.
Kiamat akan terjadi apabila tidak ada satupun manusia yang beriman dan menyebut ALLAH, berarti selama masih ada azan berarti kiamat masih jauh.
Maksud selalu akan muncul dari umatku yang selalu membawa kebenaran dari golonganku sampai HARI KIAMAT, Syaikh Fauzan dalam Aqidah Al Washittiyah mengatakan adalah munculnya ANGIN, di akhir zaman nanti akan ada angin, siapapun orang yang ada didalam hatinya iman walaupun sebesar Dzarrah ketika kena angin itu ia akan mati. Setelah semua orang mu’min itu mati maka yang tinggal itu hanya orang – orang kafir yang hidup dalam kekafirannya pada saat itu terjadilah hari kiamat.

Jadi kata Rasul SAW akan selalu muncul generasi dari umatku yang tegak di atas kebenaran melaksanakan Al Qur’an dan Sunnah sampai datang urusan ALLAH berupa angin datang.
Imam Ahmad berkata : kalau kelompok kecil yang berada di atas kebenaran itu bukan Ahlu Hadis maka aku tidak tahu lagi siapa mereka.
Ini maksudnya bahwa kelompok kecil yang akan berada di atas kebenaran dan berada di atas perintah ALLAH adalah para ulama Ahlu Hadis para ulama orang – orang yang berilmu.
Imam Ahmad memaksudkan bahwa yang dimaksud kelompok kecil itu adalah ahlu sunnah dan orang – orang yang berkeyakinan ahlu hadis. Ini menunjukan kalau orang – orang yang selalu tegak di atas kebenaran dan di atas perintah ALLAH sampai kiamat nanti maksudnya adalah orang – orang yang berilmu.

Dari sini kita dapat melihat keutamaan orang yang berilmu diantaranya : selalu tegak di atas kebenaran sekalipun kekejaman manusia meraja lela dan menyebar mengadakan berbagai macam kerusakan dan kemaksiatan, bagi orang – orang berilmu tetap tegak berada di atas kebenaran diantara kebejatan manusia.


  1. ORANG BERILMU SALAH SATU YANG KITA BOLEH IRI KEPADA MEREKA

Orang berilmu menjadikan kita boleh menjadi iri kepada orang itu, menjadi tertarik ingin menjadi orang seperti itu. Bahkan dibolehkan kita mempunyai obsesi, cita – cita, tujuan menjadi orang yang berilmu.
Rasul SAW tidak pernah mendorong untuk tergiur kepada orang lain kecuali tergiur kepada dua kelompok manusia. Pertama kepada orang – orang berilmu dan mengamalkan ilmunya, kedua kepada orang kaya yang memakai kekayaannya untuk kepentingan umat islam, dakwah dan fisabilillah.

Dijelaskan dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang shahih, Rasul SAW bersabda :  Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas'ud r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua perkara iaitu terhadap seseorang yang dikurniakan oleh Allah harta kekayaan tapi dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan). Juga seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaatkannya (dengan kebenaran) serta mengajarkannya kepada orang lain .  
Selain kepada dua golongan ini tidak ada anjuran dan dibolehkan seseorang untuk iri kepada orang lain.
Dari sini kita melihat salah satu keutamaan ilmu, bahwa orang berilmu itu bisa menjadi cita – cita kita bersama.


  1. ORANG BERILMU  DIIBARATKAN SEPERTI TANAH YANG SUBUR.

Rasul SAW mengatakan bahwa orang yang berilmu diumpamakan seperti tanah yang gembur dan subur. Gembur artinya apabila ditanam apapun ditanah seperti itu pasti jadi. Dan kondisi tanah inilah yang terbaik.

Dijelaskan oleh Rasul SAW dalam sebuah hadis : Diriwayatkan daripada Abu Musa r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Perumpamaan Allah Azza Wa Jalla mengutusku menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti titisan hujan yang telah membasahi bumi. Manakala bumi tersebut sebahagian tanahnya ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumput dan sebahagian lagi berupa tanah-tanah keras yang dapat menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia sehingga mereka dapat meneguk air, memberi minum dan menggembala ternaknya di tempat itu. Ada juga titisan air hujan tersebut jatuh di tanah yang lain, iaitu tanah gersang yang sama sekali tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput rampai. Manakala itu semua adalah perumpamaan orang yang bijak pandai tentang agama Allah dan memanfaatkannya setelah aku diutus oleh Allah. Maka baginda tahu dan mahu mengajar apa yang diketahuinya dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mahu menerima petunjuk Allah yang keranaNya aku diutuskan
·         Kondisi pertama bahwa orang itu dapat menerima ilmu, dan dengan ilmunya itu ia dapat mengamalkan dan dapat mengajari kepada orang lain.
·         Kondisi kedua bahwa orang tersebut dapat menerima ilmu tetapi ia tidak dapat mengamalkan dan menggunakan ilmunya, tetapi orang lain dapat menggunakan atau memanfaatkan ilmu orang itu.
·         Kondisi ketiga bahwa orang itu tidak dapat menerima ilmu sama sekali.

Disini kalau orang berilmu bila diibaratkan tanah adalah seperti tanah yang terbaik dan sebagai manusia adalah manusia yang terbaik yang mampu menyerap dan memberikan manfaat bagi orang lain.


  1. ILMU ADALAH JALAN MENUJU SYURGA.

Kalau ada orang yang bertanya kemana jalan menuju syurga ? ILMU. Apakah jalan yang dapat menghantarkan kita ke syurga ? ILMU.
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Nabi SAW mengatakan : siapa orang yang menelusuri suatu jalan, ia tidak menempuh jalan itu kecuali untuk mencari ilmu, maka ALLAH akan memudahkan orang itu jalan menuju surga.
Jadi hadis ini menunjukan bahwa ilmu adalah jalan menuju surga.


  1. ILMU ADALAH KEBAIKAN.

Ilmu adalah kebaikan yang ALLAH berikan kepada manusia sebagaimana dalam hadis : siapa orang yang dikehendaki kebaikan oleh ALLAH maka ALLAH akan jadikan orang itu paham akan agama / islam. Hadis Bukhari dan Muslim.
Tapi yang dimaksud Faqih / paham bukan dalam hal Fiqh saja tetapi menyeluruh berupa Tauhid, Ushuluddin, Syariat ALLAH dan yang lain – lainnya.
Oleh karena itu para ulama ahli tafsir menafsirkan doa “ Rabbana atina fidunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabanarr “ : Ya ALLAH berikan kepadaku kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah aku dari adzab neraka , maksud kebaikan disana adalah ILMU. Sebab tidak ada yang lebih baik dari kebaikan di dunia dan akhirat kecuali ILMU.



  1. ILMU ADALAH CAHAYA. 

Ilmu adalah cahaya, dimana cahaya berfungsi sebagai penerang. Dengan ilmu orang akan terang jalannya dan dia akan tahu bagaimana cara beribadah kepada ALLAH, bagaimana bermuamalah dengan manusia, bagaimana bila ia menemukan suatu kasus, kalau punya ilmu maka ia tidak bingung dan merasa kegelapan. Kalau ia tidak punya ilmu maka jelas ia akan bingung dan kegelapan. Kalau umpama kita melihat banyak manusia meninggalkan ibadah hanya karena tidak tahu ilmunya.

Umpamanya orang banyak bepergian keluar kota, orang yang safar bisa mengqadha shalatnya dan menjaga shalatnya karena keperluan, tapi karena tidak tahu hukum jama qashar dan disana repot nggak ada waktu maka akhirnya ia tidak shalat. Tidak tahu dengan bagaimana tayamum. Mau shalat di kendaraan, tidak ada air dan tidak tahu caranya dan akhirnya tidak shalat. Hal ini sering terjadi. Banyak dari mereka yang ingin shalat dan tidak tahu bagaimana caranya akhirnya ia tidak shalat. Orang itu tidak bedanya seperti orang yang berjalan di kegelapan pada malam yang gelap gulita. Ia tidak tahu walaupun tujuannya tahu, arah mana jalan yang harus dituju ia tidak tahu.

Misalnya ingin pergi ke bandung tapi dalam keadaan gelap gulita dan telunjuk sendiripun tidak terlihat, apakah dalam kondisi tersebut kita tahu arah timur, barat, selatan dan utara? Tentunya kita tidak tahu. Andaikan kita tahu itu barat itu timur itu utara dan itu selatan tetapi ia tidak tahu jalan yang dilaluinya itu aman atau tidak dari halangan – halangan. Dan orang yang kegelapan maka ia tidak akan tahu arah.
Orang yang tidak berilmu tahu kalau tujuannya itu akhirat  dan bahwa ia akan kembali ke akhirat dan bahkan sebagian orang tidak tahu kalau ia akan kembali ke akhirat. Akhirnya mereka seperti orang yang tidak punya tujuan. Orang yang tahu tujuan hidupnya akhirat tapi tidak tahu bagaimana supaya bahagia di akhirat  seperti keadaan orang yang berada ditengah gelap gulita , tujuanya tahu ke akhirat tapi tidak tahu arah mana menuju ke sana. Seandainya tahu ia tidak tahu jalan yang dilaluinya ada lubang atau tidak, ada hambatan atau tidak dan akhirnya orang seperti itu adalah ‘nekat’ dan tidak perduli kondisi jalan yang dilaluinya, semuanya diterjangnya seperti orang yang ‘membabi buta’.
Babi itu binatang yang tidak bisa menengok kiri dan kanan, sudah begitu buta pula, maka apapun yang didepannya akan diterjangnya meskipun itu dapat membahayakan dirinya.
Itulah orang yang gelap jalan hidupnya karena tidak mempunyai ilmu.

Berbeda dengan orang yang mempunyai ilmu yang terterangi jalan hidupnya bagaikan berjalan di siang hari yang terang benderang, mau kemanapun mudah dan tahu arah. Ada halangan maka ia menghindar dari halangan itu sehingga ia akan senantiasa selamat berjalan menuju tujauan yang dituju (akhirat). Ia tahu cara beribadah kepada ALLAH, ia tahu cara bermuamalah dengan manusia sehingga jalan hidupnya selalu berada di atas jalan yang terang dan tidak membingungkan samasekali.
Coba bayangkan zaman sekarang dengan teknologi yang berkembang pesat, sistim ekonomi yang meningkat pesat dan beragam, dan apabila hukum fiqh-nya tidak kita pahami banyak yang terjerumus.
Umpamanya sekarang ada yang namanya asuransi syariah, bank syariah segala macam yang ada syariahnya sudah pasti benar dan halal dan kita masuk kesana dan kerja di sana, dan ini salah satu kebodohan kita tentang syariat dan islam.
Jadi ilmu itu cahaya yang menerangi jalan hidup manusia, yang tanpanya maka manusia berjalan di atas kegelapan.


  1. ORANG BERILMU DAPAT MENJADI CAHAYA BAGI ORANG LAIN

Orang yang berilmu dapat menjadi cahaya yang dapat menerangi orang lain baik untuk urusan dunia dan agama mereka. Kita ambil contoh sebuah kisah  orang yang sudah membunuh 99 orang dia mau tobat dan dia datang kepada orang yang jahil tentang ilmu agama tetapi ia ahli ibadah. Ia bertanya kepada seorang Rahib : saya sudah membunuh 99 orang dan ingin bertobat apakah bisa diterima atau tidak ? karena sang rahib ini ahli ibadah tapi jahil ini menjawab : tidak bisa ! dosanya terlalu besar ! maka putus asalah orang tersebut , lalu ia marah dan mencabut pedangnya dan memenggal rahib tadi dan genaplah ia membunuh 100 orang. Lalu datanglah ia kepada seorang alim dan mengatakan kalau ia sudah membunuh 100 orang dan mau bertobat, apakah tobatnya akan diterima ? Orang alim menjawab : tidak ada satupun yang menghalangi seseorang dengan tobatnya, diterima , jangankan 100 orang bahkan lebih kalau ia mau tobat pasti akan diterima. Akhirnya orang tersebut benar – benar tobat dan disuruh untuk meninggalkan dunia lamanya dengan dunia barunya dan diceritakan ditengah jalan orang itu mati dan akhirnya selamat . Kisah ini mashur yang diceritakan dalam shahih Bukhari dan Muslim.

Kita lihat dua jawaban dua orang tadi yang satu ahli ibadah tapi jahil dan ahli ilmu, maka yang bisa memberikan penerangan yang benar sehingga orang itu tidak putus asa dan membabi buta adalah orang yang berilmu. Dan jawaban ahli ibadah itu tidak bisa memberikan penerangan dan akhirnya orang itu putus asa dan membabi buta lagi dan membunuh lagi.
Ini membuktikan kalau ilmu itu cahaya dan orang yang berilmu itu juga cahaya yang dapat menerangi dirinya dan juga menerangi orang lain.


  1. ORANG BERILMU AKAN DIANGKAT DERAJATNYA OLEH ALLAH.

ALLAH akan mengangkat derajat orang – orang yang berilmu dunia dan akhirat, lihat surat Mujadalah : 11 : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  
Diangkatnya derajat mereka didunia adalah berupa diangkatnya dalam bidang ekonomi, dari segi kedudukan , orang itu terhormat di pandangan manusia walaupun ia tidak punya jabatan. Tetapi ia mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada orang yang mempunyai jabatan, lebih dijadikan panutan oleh masyarakatnya.
Sampai – sampai dahulu dan juga berlangsung sampai sekarang di daerah –daerah tertentu, lurah atau camat ketika akan mengadakan kerja bakti dan mengarahkan masyarakat mereka tidak begitu didengar. Tetapi ketika seorang ustad, ulama dan ajengan yang memerintahkan maka tidak hanya santri – santrinya saja bahkan semua masyarakatpun ikut.

Sekarang apakah ada seorang ulama yang kehidupannya miskin karena tidak kerja ? tidak ada !  Karena tulisan – tulisannya dicetak jadi buku, ceramahnya dikasetkan dan disebar dan kemudian ia mendapatkan hasil Royalti dari hasil tulisannya. Dan hasil –hasil yang mereka dapatkan dari royaltipun terus disumbangkan . oleh karena itu kehidupan orang yang berilmu itu diangkat oleh ALLAH didunia  dibanding yang lainnya terlebih lagi di akhirat nanti.
Mereka ahli ilmu diangkat derajatnya di akhirat karena sedikitnya kesalahan mereka dan banyaknya pahala mereka. Kenapa ? Karena :
·         Ia beramal dengan ilmunya
·         Ia mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan orang lain
·         Dan setelah mengajarkan dan murid – muridnya mengamalkan maka ia juga mendapat pahala murd – muridnya
·         Muridnya mengajarkan lagi maka gurunya pun mendapat tambahan pahalanya lagi.
Siapa orang yang memberikan petunjuk kearah kebaikan maka orang itu memperoleh pahala dan ditambah pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.
Adapun dosa – dosanya sedikit karena dosanya selalu berguguran dengan ilmunya, karena dengan ilmunya para malaikat, binatang dan manusia – manusia berdoa agar dosanya diampuni dan rahmatNYA selalu dicurahkan.
Dengan ini maka derajat orang – orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dibanding orang yang tidak berilmu baik di dunia maupun di akhirat. 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar